
Jakarta, 15 September 2026 — Organisasi Rakyat Indonesia (ORI) menyoroti pergerakan harga sejumlah kebutuhan pokok yang berpotensi semakin membebani kehidupan masyarakat. Kenaikan harga pangan tidak boleh dipandang hanya sebagai persoalan pasar, karena berkaitan langsung dengan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Harga bahan pangan seperti beras, cabai, bawang, telur, daging ayam, dan minyak goreng sangat menentukan pengeluaran rumah tangga. Ketika harga-harga tersebut meningkat, masyarakat berpenghasilan rendah, pekerja, petani kecil, nelayan, pengemudi, pelaku UMKM, dan pekerja sektor informal menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.
Sekretaris Jenderal Organisasi Rakyat Indonesia, Ferri Nuzarli, S.E., S.H., menegaskan bahwa pemerintah harus bergerak cepat melalui pengawasan harga, penguatan distribusi, dan perlindungan terhadap produsen maupun konsumen.
“Stabilitas pangan bukan sekadar persoalan angka inflasi. Di dalamnya terdapat hak rakyat untuk makan, bertahan hidup, dan membangun masa depan keluarganya. Negara harus memastikan pangan tersedia, terjangkau, dan tidak dimainkan oleh pihak-pihak yang mencari keuntungan di tengah kesulitan rakyat.”
ORI mendorong pemerintah pusat dan daerah mengambil langkah konkret:
- Menjamin ketersediaan dan kelancaran distribusi bahan pangan.
- Mengawasi rantai pasok serta menindak penimbunan dan permainan harga.
- Melindungi petani, peternak, nelayan, dan pedagang kecil.
- Menggelar operasi pasar secara tepat sasaran ketika terjadi lonjakan harga.
- Memastikan bantuan pangan diterima masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
- Menyampaikan informasi harga dan stok pangan secara terbuka kepada masyarakat.
ORI menegaskan bahwa kebijakan stabilisasi harga tidak boleh hanya menguntungkan konsumen dengan mengorbankan produsen. Petani dan peternak tetap harus memperoleh harga yang adil, sementara rakyat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
Pangan adalah kebutuhan dasar dan hak rakyat. Pemerintah tidak boleh menunggu sampai kenaikan harga berubah menjadi krisis daya beli.
ORI Bersatu, ORI Bergerak, ORI Berjuang untuk Rakyat Indonesia.